Romantic Thriller
Bab 7: Permainan Berbahaya
Malam itu, bulan bersinar di jendela, menyoroti ruang tamu yang sepi. Namun, kesunyian itu seolah menunggu ledakan emosi yang akan datang. Mia, dalam keadaan separuh sedar, terbaring di atas sofa. Matanya separuh terbuka, namun pikirannya berkelana jauh. Kesan Flibanserin masih membara dalam dirinya, meningkatkan keinginan yang tak tertahan.
Tiba-tiba, pintu terbuka dengan hempasan. Jarek, suami Mia, melangkah masuk dengan wajahnya berkerut, dipenuhi kerisauan. “Mia!” suaranya menembus kegelapan, mengisi ruangan dengan ketegangan.
Mia berpaling, tetapi tidak sepenuhnya menyedari kehadirannya. Tangannya mulai menjelajahi tubuhnya sendiri, mulutnya mengeluarkan suara lembut, "Jarek..." Dia tidak sedar betapa menggodanya gerakannya.
Jarek terkejut, perasaan marah dan sakit hati campur aduk dalam jiwanya. “Apa yang kau buat?” Suaranya menjadi lebih mendalam, penuh kemarahan. Dia menghampiri Mia, seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Tunggu… ada apa dengan kau?”
“Jarek, aku…” Mia terdengar bingung, tetapi hasrat yang membara menguasai segala-galanya.
Satu pesan tiba-tiba muncul di telefon Jarek. “Syukurlah kau datang mencarinya. Jika kau mahu tahu, mungkin kami lebih dari itu.” Jarek melihat pesanan itu dan hatinya terasa seperti diremuk. Kecewa dan kemarahan membara di dalamnya.
“Siapa yang melakukannya?” tanyanya dengan suara mendesis, menahan amarah yang hampir meluap. Dia berpaling kepada Mia yang masih berbisik namanya, dan dalam sekelip mata, dia bertindak. Jarek mengangkat Mia dan melemparkan tubuhnya ke atas katil.
“Jarek!” seru Mia, terkejut, tetapi dia tidak dapat menahan hasrat yang membara.
Jarek berdiri di sisi katil, wajahnya tegang. “Dia tidak akan memilikinya!” hatinya mendengus. Dia melihat Mia, tubuhnya bergelora di atas katil. “Dia akan meraung namaku, dan bukan namamu!” Dia merasakan kekuatan yang menggelegak dalam dirinya, bukan hanya rasa cinta tetapi juga hasrat yang membara.
"Jarek, tolong," Mia merayu, tetapi suaranya dipenuhi dengan keinginan.
Dia melangkah maju, merapatkan tubuhnya ke tubuh Mia yang bergetar. “Kau tidak akan dibiarkan terjebak dalam permainan kotor ini, Mia. Aku akan melindungimu, walau apa yang perlu dilakukan.”
“Jarek...” Mia menggigit bibirnya, meremang melihat lelaki itu, tetapi ada api yang membakar antara mereka.
Dia mendekat, mencium leher Mia dengan lembut namun penuh ketegasan. “Kau milikku, dan aku tidak akan membiarkan sesiapa menghancurkan kita,” bisiknya, suaranya bergetar dengan kepastian.
Mia menutup matanya, merasakan kehadiran suaminya yang dominan. “Jarek, aku… tidak mahu kehilanganmu.”
“Dan kau tidak akan,” dia berjanji, dengan api kemarahan yang menyala dalam hatinya. “Sekarang, mari kita tunjukkan kepada mereka, siapa sebenarnya yang mengawal permainan ini,” katanya dengan nada penuh janji.
Dengan itu, semuanya berubah. Ketegangan yang mendebarkan terbangun, dan mereka berdua terjebak dalam pusaran cinta yang berapi-api, ditambah dengan ancaman yang mengintai dari bayangan.
